Mungkin bisa jadi bahan pemikiran..
Written by: ferri
dikutip dari KOMPAS..
Yoris: Jangan Menunggu Fasilitas
Orin Basuki
Yoris Sebastian Nisiho mungkin bukan orang yang pas untuk menanyakan cara kerja sebuah alat musik atau teknik vokal yang benar agar bersuara indah. Akan tetapi, ia patut menjadi contoh untuk mengetahui cara mengatur pertunjukan menarik, mengelola artis, atau meningkatkan nilai ekonomi usaha hiburan di Tanah Air.
Kemampuannya itulah yang membawa pemuda lulusan SMA Pangudi Luhur 1, Jakarta, ini sebagai pemenang kedua International Young Music Entrepreneur of the Year (IYMEY) 2006 yang diluncurkan pertama kali oleh lembaga pengembangan kebudayaan Inggris British Council di London, 30 Juni 2006 lalu.
British Council memiliki 110 perwakilan di seluruh dunia, namun hanya 10 negara yang dianggap layak mengikuti putaran akhir IYMEI 2006, termasuk Indonesia yang diwakili mantan wartawan sekaligus fotografer majalah remaja Hai, kelahiran Ujung Pandang (kini Makassar) 5 Januari 1972 ini.
IYMEI 2006 bukanlah ajang unjuk kemampuan bermain musik, namun setiap kandidatnya diminta mempresentasikan proposal pengembangan musik yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di negaranya. Sembilan kandidat IYMEI lainnya cenderung menyampaikan proposal pengembangan musik dalam arti sempit, antara lain proposal pemasaran album musik yang mereka garap.
Yoris tampil beda. Lelaki yang sempat mengecap bangku kuliah di Universitas Atma Jaya, namun ditinggalkannya demi karier di dunia hiburan ini, mengusung proposal bertema Goliath versus David, yang diadopsi dari cerita kuno Timur Tengah. Akan tetapi, berbeda dari aslinya, cerita Goliath versus David versi Yoris ini sangat berbau ekonomi.
Dalam cerita aslinya, ujar Yoris, Goliath cenderung berlawanan dengan David, namun dalam proposalnya, kisah itu menjadi berbalik. Goliath menggambarkan artis atau pelaku musik lainnya yang sudah eksis di dunia hiburan Indonesia dan memiliki uang “nganggur” dalam jumlah besar. Yoris berupaya mencari jalan agar Goliath itu bersedia membantu David, yang menggambarkan penyanyi, band, atau pemusik muda berbakat yang belum bermodal agar dapat memasuki pasar rekaman.
“Band-band yang sudah eksis di Indonesia itu sudah pasti kaya karena mereka mendapatkan penerimaan dari penjualan album, iklan, hingga fee pengarang lagu. Misalnya, Ariel Peterpan, kalau dia mau, bisa memodali band berbakat pendatang baru dengan berbagai perhitungan bisnis, sehingga dia sendiri bisa mendapat keuntungan,” katanya.
Dengan kepedulian Goliath kepada David itu, Yoris yakin akan ada ketersediaan modal dalam jumlah besar yang siap mendorong pertumbuhan bisnis musik di Indonesia. Dana itu akan terus bergulir sehingga band-band pendatang baru akan terus bermunculan.
“Anggaran memang bisa menjadi batu sandungan, karena untuk merilis album baru, sebuah band perlu menyediakan dana sekitar Rp 100 juta. Sementara penyanyi solo bisa lebih mahal, karena mereka harus membayar pengarang lagu,” katanya.
Sebagai pemenang kedua IYMEI 2006, Yoris berhak atas hibah sebesar 3.000 poundsterling. Dana itu akan digunakannya untuk membuat sarana penghubung antara pemodal dan band- band baru atau antara artis dan pelaku usaha lainnya.
“Dana ini akan digunakan untuk membangun sebuah situs internet yang menjadi data base musik yang dapat membantu pelaku usaha di bidang musik mengembangkan bisnisnya,” ujar juara Young Marketers Award Winner IMA and Markplus tahun 2003 ini.
Akrab dengan bisnis
Dunia bisnis bukanlah lingkungan yang asing bagi Yoris. Tahun 1990, saat di bangku SMA, dia menyelenggarakan Pangudi Luhur (PL) Fair 1990, yang dinilai sebagai tonggak awal sebuah pesta seni sekolah yang konon kini mampu menyedot sponsorship ratusan juta rupiah. Ketika memutuskan berhenti kuliah dan total bekerja pada tahun 1993, kesehariannya disibukkan dengan menjual iklan-iklan peluncuran album baru, barang konsumsi, dan perlengkapan olahraga di berbagai majalah terbitan Gramedia.
Kemampuannya itu dilirik pengelola caf? global Hard Rock Caf? (HRC) yang menerimanya menjadi asisten manajer promosi dan periklanan. Waktunya dihabiskan untuk mempersiapkan berbagai konser musik bagi band-band lokal yang belum ternama, namun akhirnya menjadi sangat terkenal di Indonesia.
“Kami menampilkan program Local Sunday Band di mana nama Java Jive, Kahitna, RIF, Protonema lantas mencuat. Semua band ini lantas mendapatkan kontrak rekaman karena memiliki fans luar biasa. Hari Minggu sama ramainya dengan Jumat dan Sabtu, tingkat penjualan tertinggi. Ini namanya Think Globally Act Locally,” katanya.
Tahun 1995, kariernya terus menanjak menjadi Manajer Entertainment HRC Jakarta. Yoris mengawali program request (permintaan) video yang masih sangat baru di Indonesia saat itu. Langkah ini dilakukannya setelah mengikuti perkembangan teknologi dan teknis pemasaran yang belum berkembang di Indonesia.
Perjalanan kariernya memuncak pada 1 April 1999 ketika dia terpilih sebagai General Manager HRC Jakarta di usia 26 tahun. Itu berarti, dia menjadi general manager termuda di Asia (atau kedua termuda di seluruh dunia) serta menjadi general manager lokal pertama di Asia di lingkungan HRC. Kesempatannya ini dimanfaatkan untuk membawa pelaku bisnis hiburan Indonesia mendunia, antara lain dengan membuka jalan artis lokal tampil di Singapura dan Kuala Lumpur.
Naluri bisnisnya yang tajam, membuatnya melirik soal jender. Pada tahun 2000, Yoris menyusun program Girls On Top, yakni menyediakan hari Kamis sebagai hari khusus bagi tamu wanita. Lima tahun kemudian, Musium Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan bagi program ini karena HRC berhasil menggelar konser berpenonton hanya perempuan. “Ini digelar pada bulan Maret dengan bintang tamu Christian Bautista (penyanyi asal Filipina yang cukup dikenal remaja Indonesia) di mana pertama kalinya digelar konser dengan penonton hanya perempuan di Indonesia,” katanya.
Ide-ide yang mengalir deras untuk pengembangan bisnis musik di tempatnya bekerja ternyata tidak membuat Yoris cepat puas. Pengalaman bangsa Inggris mengelola sektor musik, membuatnya yakin Indonesia terltinggal jauh, terutama pemanfaatan dunia hiburan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Departemen Perdagangan dan Investasi Inggris mencatat perputaran uang di sektor musiknya mencapai lima miliar poundsterling atau sekitar Rp 85,78 triliun per tahun, setara dengan anggaran yang dialokasikan bagi gaji pegawai negeri sipil Indonesia dalam setahun. Sementara itu ekspor sektor musik Inggris mencapai 1,3 poundsterling per tahunnya.
“Betapa besar potensi sektor musik untuk menggerakkan ekonomi. Sekarang, tergantung kita bagaimana mulai menyadari potensi itu. Tidak perlu menunggu pemerintah memberikan berbagai fasilitas. Swasta pun bisa bergerak sendiri asal memang ada keinginan, salah satunya dengan sinergi antara Goliath dan David itu,” katanya, menutup pembicaraan di London, Inggris, akhir Juni 2006.*


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.