Reggae di KOMPAS..

Written by: ferri

Reggae yang Tidak Harus Rasta

DAHONO FITRIANTO

Asap rokok pekat memenuhi ruangan kecil itu. Pendingin udara tidak bisa mengusir pengapnya udara yang membuat mata pedas dan tubuh berkeringat. Namun, irama musik mau tak mau membuat puluhan tubuh yang berjubel di ruangan itu bergoyang nikmat. Muncul sensasi gembira, nyaman, dan santai, membuat diri lupa kepengapan dalam ruangan itu.

Satu tahun lalu, itulah sensasi yang saya rasakan waktu pertama kali memasuki BB?s, sebuah kafe di salah satu sudut kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Dan musik yang membawa semua kegembiraan dan kesantaian itu adalah reggae.

Setiap hari Rabu dan Jumat malam, BB?s menjadi salah satu pusat aktivitas komunitas pencinta dan penikmat musik reggae di Jakarta. Di situlah para pemusik dan pencinta musik yang sebagian dicirikan dengan rambut gimbal atau dreadlocks dan atribut berwarna merah-kuning-hijau berkumpul, mendendangkan lagu reggae lawas Bob Marley atau lagu-lagu baru karya musisi reggae lokal.

Dan tiba-tiba reggae populer kembali. Welcome To My Paradise, lagu yang dinyanyikan band asal Jakarta, Steven & Coconuttreez, terdengar di mana-mana, bahkan hingga ke pelosok Halmahera.

Muncul berbagai kejutan. Lagu Pat Gulipat yang dinyanyikan Tony Q Rastafara masuk dalam album Reggae Playground terbitan Putu Mayo yang merupakan kompilasi lagu-lagu reggae dari berbagai negara. Single album kedua Steven & Coconuttreez, Tersenyum Lagi, dan single keempat kelompok Souljah, Jamaica?s Way, banyak diminta pendengar sebuah radio swasta bersegmen anak muda di Jakarta. “Setiap tiga jam sekali kami memutar lagu-lagu itu,” Bayu Pamungkas, gitaris Souljah dan produser Radio Mustang Jakarta.

“Cukuplah buat bersenang-senang selama satu tahun,” tandas Steven saat ditanya berapa jumlah album kedua Steven & Coconuttreez, Easy Going, telah terjual sejak dirilis awal tahun ini. Bahkan, versi bajakan album tersebut sudah banyak ditemui di penjual CD bajakan pinggir jalan. Suatu bukti para pembajak CD pun memandang album tersebut berprospek menguntungkan untuk dibajak.

“Kantung” reggae

Di luar kecenderungan kepopuleran reggae yang mulai terjadi di tingkat nasional, sebenarnya komunitas reggae ini sudah ada sejak dulu dan selalu bertahan, terutama di “kantung-kantung” komunitas pencinta reggae. Paling tidak ada tiga tempat yang menjadi pusat komunitas reggae ini, yakni Jakarta, Yogyakarta, dan Bali.

Di kawasan Legian, Kuta, Bali, terdapat satu tempat yang sudah terkenal hingga mancanegara sebagai pusat pencinta reggae di Bali. Tempat tersebut adalah Apache Reggae Bar, sebuah bar penuh ornamen Indian yang memajang kalimat “Jah Rasta Far?I” di panggung tempat memainkan musik-musik reggae.

“Kami benar-benar total menampilkan nuansa reggae dan rasta saat peringatan hari lahir dan meninggalnya Bob Marley. Kami juga menggelar lomba mirip Bob Marley atau rambut gimbal terpanjang gimbal ala Marley,” ujar Ida Bagus Gede Sarian, Marketing Manager Apache.

Hidupnya reggae di Kuta dimulai dengan dibukanya Kayu Api Club dan Bruna Reggae Bar pada era 1980-an lalu, yang diiringi dengan munculnya artis-artis reggae setempat, seperti Legend Band dan Sunshine, yang vokalisnya, Joni Agung, masih bertahan sampai kini.

Seiring berkembangnya komunitas reggae, tumbuh pula bisnis aksesori reggae. Salah satu toko aksesori ini, Rasta Factory di Jalan Raya Kuta, bahkan telah mengekspor berbagai aksesori mulai dari kaus hingga asbak bernuansa reggae dan rasta ke Jepang, Australia, Thailand, Amerika Serikat, dan Belanda.

Vokalis Legend Band, Sila Sayana, mengaku sedang menelusuri dan mendata ulang para pencinta reggae di Bali untuk membentuk komunitas rasta Bali. Bahkan, Apache Bar sudah mengeluarkan kartu reggae mania bagi sekitar 200 orang pencinta reggae.

Perkembangan serupa terjadi di Yogyakarta yang telah memiliki Indonesia Reggae Community. Salah satu pelopor musik reggae di Yogya adalah pemusik bernama Masanis. Lelaki berambut gimbal tersebut sempat pergi ke tanah kelahiran reggae di Jamaika dan pulang ke Tanah Air pada 1986.

Sejak saat itu, ia mengenalkan reggae kepada rekan-rekannya di komunitas musisi jalanan Malioboro. Periode 1990-an ditandai munculnya grup-grup musik reggae di Yogya, yang didukung oleh sejumlah kafe yang menawarkan program reguler musik reggae, seperti Etnik Cafe.

Popularitas reggae di Kota Gudeg itu sempat diikuti dengan munculnya butik-butik distro bernuansa reggae. Hingga tahun ini, sedikitnya empat kafe telah menjadi pusat berkumpulnya komunitas reggae, yakni Bintang Cafe, Radical Cafe, Ouroe Cafe, dan Java Cafe.

Reggae dan rasta

Di Indonesia, reggae hampir selalu diidentikkan dengan rasta. Padahal, reggae dan rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda. “Reggae adalah nama genre musik, sedangkan rasta atau singkatan dari rastafari adalah sebuah pilihan jalan hidup, way of life,” ujar Ras Muhamad (23), pemusik reggae yang sudah 12 tahun menekuni dunia reggae di New York dan penganut ajaran filosofi rasta.

Repotnya, di balik ingar-bingar dan kegembiraan yang dibawa reggae, ada stigma yang melekat pada para penggemar musik tersebut. Dan stigma tersebut turut melekat pada filosofi rasta itu sendiri. “Di sini, penggemar musik reggae, atau sering salah kaprah disebut rastafarian, diidentikkan dengan pengisap ganja dan bergaya hidup semaunya, tanpa tujuan,” ungkap Ras yang bernama asli Muhamad Egar ini.

Padahal, filosofi rasta sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup bersih, tertib, dan memiliki prinsip serta tujuan hidup yang jelas. Penganut rasta yang sesungguhnya menolak minum alkohol, makan daging, dan bahkan mengisap rokok. “Para anggota The Wailers (band asli Bob Marley) tidak ada yang merokok. Merokok menyalahi ajaran rastafari,” papar Ras.

Ras mengungkapkan, tidak semua penggemar reggae adalah penganut rasta, dan sebaliknya, tidak semua penganut rasta harus menyenangi lagu reggae. Reggae diidentikkan dengan rasta karena Bob Marley?pembawa genre musik tersebut ke dunia?adalah seorang penganut rasta.

Ras menambahkan, salah satu bukti bahwa komunitas reggae di Indonesia sebagian besar belum memahami ajaran rastafari adalah tidak adanya pemahaman terhadap hal-hal mendasar dari filosofi itu. “Misalnya waktu saya tanya mereka tentang Marcus Garvey dan Haile Selassie, mereka tidak tahu. Padahal itu adalah dua tokoh utama dalam ajaran rastafari,” ungkap pemuda yang menggelung rambut panjangnya dalam sorban ini.

Pemusik Tony Q Rastafara pun mengakui, meski ia menggunakan embel-embel nama Rastafara, tetapi dia bukan seorang penganut rasta. Tony mencoba memahami ajaran rastafari yang menurut dia bisa diperas menjadi satu hakikat filosofi, yakni cinta damai. “Yang saya ikuti cuma cinta damai itu,” tutur Tony yang tidak mau menyentuh ganja itu.

Namun, meski tidak memahami dan menjalankan seluruh filosofi rastafari, para penggemar dan pelaku reggae di Indonesia mengaku mendapatkan sesuatu di balik musik yang mereka cintai itu. Biasanya, dimulai dari menyenangi musik reggae (dan lirik lagu-lagunya), para penggemar itu kemudian mulai tertarik mempelajari filosofi dan ajaran yang ada di baliknya.

Seperti diakui Hendry Moses Billy, gitaris grup Papa Rasta asal Yogya, yang mengaku musik reggae semakin menguatkan kebenciannya terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan wewenang. Setiap ditilang polisi, ia lebih memilih berdebat daripada “berdamai”. “Masalahnya bukan pada uang, tetapi praktik seperti itu tidak adil,” tandas Moses yang mengaku sering dibuntuti orang tak dikenal saat beli rokok tengah malam karena dikira mau beli ganja.

Sementara Steven mengaku dirinya menjadi lebih bijak dalam memandang hidup sejak menggeluti musik reggae. Musik reggae, terutama yang dipopulerkan Bob Marley, menurut Steven, mengajarkan perdamaian, keadilan, dan antikekerasan. “Jadi kami memberontak terhadap ketidakadilan, tetapi tidak antikemapanan. Kalau reggae tumbuh, maka di Indonesia tidak akan ada perang. Indonesia akan tersenyum dengan reggae,” ujar Steven mantap.

Sila dan Joni dari Bali menegaskan, seorang rasta sejati tidak harus identik dengan penampilan ala Bob Marley. “Rasta sejati itu ada di dalam hati,” tandas Sila sambil mengepalkan tangan kanan untuk menepuk dadanya. (AYU SULISTYOWATI/ AGUNG SETYAHADI/ FRANS SARTONO/LASTI KURNIA)

This entry was posted on Sunday, July 16th, 2006 and is filed under INDONESIA. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.


Links

Archive