Victor Manuputty: Kontrol Ego Hip-Hopmu!

Pertama kali membaca judul di atas, apa yang ada di benak kalian? Mencoba untuk introspeksi diri, atau justru tidak peduli? Dari dua pilihan yang ada, pastinya banyak yang tidak peduli dengan besarnya ego yang ada di dalam diri masing-masing. Bukan hal aneh kalau banyak Rapper, lokal maupun internasional, yang lebih meninggikan sisi ego dalam membuat lirik untuk lagu Rap. Mulai dari pengucapan lirik, pembuatan rima, dan beat, seringkali hanya mengikuti keinginan dan karakter pribadi yang dibuat untuk menarik perhatian penikmat musik Hip-Hop. Namun, tahukah bahwa terselip dampak besar dari sebuah ego? Selain menghilangkan nilai original dari pesan yang ingin disampaikan, ego juga bisa membuat pemusik kehilangan pasar mereka.

Bicara soal ego, kali ini Hiphopindo.NET berkesempatan untuk mewawancarai seorang vocal director yang juga pelaku Hip-Hop, Victor Manuputty. Ia mulai mengenal Rap dari sebuah lagu milik grup Rap Salt n Pepa – Push It pada tahun 1995 melalui tayangan video musik barat  di TVRI. Sayangnya, daerah asal Victor di Ambon belum memiliki stok lagu Rap. Ketika meneruskan sekolahnya di kota kembang, Bandung, ia mulai mendengar kembali dan langsung mempelajari track-track Hip-Hop.

Apa kabar Bang Victor? Sedang sibuk apa sekarang?
Puji Tuhan, aku kabar baik. Apa kabar juga Hiphopindo.NET? Kesibukanku masih seputar bermusik, rekaman, vocal director, dan produce-produce. Kebetulan sekarang pas lagi liburan dipakai istirahat dulu sehari-dua hari :)

Lalu, apa yang membuat Abang lebih menyukai musik Rap dibanding genre musik yang lain?
Hmm, kebetulan aku genre musik apa saja masuk, hanya mungkin Rap dan Rnb yang aku dalami.

Sebagai senior Hip Hop, menurut Abang pribadi, apa perbedaan antara musik Hip Hop lokal di tahun 90-an dengan sekarang?
Wuaaa Senior! Ah, aku nggak senior-senior amat, ah. Ha ha ha. Agak nggak enak juga menganggap senior atau junior itu serasa ada jarak :)

Hmm, kalau tahun 90’an sama sekarang? Apa yah? Mungkin kalau 90’an pelaku Rap-nya nggak begitu banyak. Plus kelebihannya ‘mengalami’ masa-masa struggle-nya Rap masuk ke Indonesia. Kalau jaman sekarang, pelaku Rap-nya sudah banyak dan bisa dibilang lebih enak karena tinggal ‘menikmati’ dan mengembangkan hasil dari era 90’an.

Jaman dulu, breakdance saja ditangkap polisi, sekarang malah disediakan ‘sanggar’-nya. Bahkan ada dalam ekstrakulikuler sekolah. Hi hi hi.

Ketika memutuskan untuk memilih jalur Rap, apa yang menjadi tujuan untuk berkarya?

Dulu  nggak ada tujuan yang muluk-muluk ketika aku memilih Rap. Senang aja karena di Rap lah tempatku bisa berkarya semauku, bebas, nyaman, mengikuti egoku tanpa memikirkan ‘selera pasar’.

Buatku, memuaskan diri dengan  menikmati karyaku sendiri sudah cukup. Nggak peduli orang suka atau tidak, yang penting aku sudah suka, itu cukup buatku. Orang akan suka dengan karyaku, atau nggak suka, itu pilihan belakangan :)
Hanya dengan berjalannya waktu dan melihat kondisi perkembangan Hip-Hop, tujuannya jadi ingin agar tidak hanya rapper yang menikmati Rap atau Hip Hop, tapi semua kalangan pun dapat menikmatinya.

 

Kalau menurut pendapat Abang, apakah musik Hip-Hop akan mendapat tempat yang sejajar dengan genre musik lain di industri musik Indonesia?
Menurutku, Hip-Hop sudah mulai perlahan mendapat tempat di industri musik Indonesia. Walaupun sekarang belum terlalu, mungkin kalau diprediksikan sekitar 3 atau 5-10 tahun lagi baru benar-benar agak setara. Hip-Hop juga sangat berpotensi sejajar, bahkan mungkin saja bisa menguasai industri musik kita nantinya. Siapa tahu?

 

Hmm, kalau begitu, bagaimana caranya?
Pertama yang aku sarankan adalah saring atau bila perlu tanggalkan ego Hip-Hopmu supaya dapat diterima. Kita mau diterima industri musik dan masyarakat umum, berarti kita harus berkarya untuk dinikmati masyarakat dan industri musik, atau ‘selera pasar’ itu. Mulai dari pemilihan lirik, pemilihan notasi, isi cerita yang disampaikan, pengucapan, sampai musik dan pemilihan instrumen adalah hal yang patut kita pertimbangkan untuk membuat Hip-Hop dapat diterima mulus.

Contohnya, pemilihan lirik. Dalam musik Rap, lirik bisa semau kita, lirik vulgar, kontroversi, beef, dis  (celaan dan makian) dianggap sah-sah saja, tapi apakah bisa diterima oleh masyarakat? Atau apakah Hip-Hop seperti itu yang mau kita kenalkan ke masyarakat? Aku rasa nggak. Contoh lain, pengucapan atau kata lainnya artikulasi. Sering aku temukan track-track Rap Indo yang aku nggak tahu rapper itu ngomong apa. Harus dengan usaha dan keseriusan penuh untuk mendengarkannya. Ada juga yang nge-Rap-nya teriak karena karakter yang sengaja dibangun seperti itu. Namun, alhasil apa yang disampaikan melalui track itu nggak nyampe ke pendengarnya karena pendengarnya nggak nyaman dengan penyampaian seperti itu.

Nah, hal-hal kecil seperti inilah yang aku rasa patut diperhatikan terlebih dahulu, dan masih banyak lagi sebenarnya. Aha ha ha…

Wah, masukan yang sangat bermanfaat
:) Lalu, pernah nggak Hip Hop memberikan sesuatu yang berharga untuk Bang Victor?
Hmm, dari dulu sampai sekarang, secara materi yang berharga sih nggak. Namun, Hip-Hop berikan sesuatu yang lain, pondasi untuk aku bekarya, pendewasaan mental, dan attitude. Walaupun karya kerjaan yang dibuat kadang bukan Hip-Hop, tapi inspirasi dan ide berakar dari Hip-Hop.

Selain itu, friendship yang akrab dan sudah dijalani bertahun-tahun juga aku dapatkan dari Hip-Hop, buatku itu jauh lebih berharga.

Lalu, apa rencana Bang Victor ke depan untuk memajukan musik Hip-Hop di tanah air?

Rencanaku  ke depan untuk memajukan Hip-Hop ya terus berkarya. Karena semakin banyak karya-karya Hip-Hop yang ‘mengudara’ maka telinga masyarakat semakin terbiasa dan familiar dengan Hip-Hop.

Apakah ada proyek musik yang sedang digarap?

Proyek musik yang dikerjakan saat ini, kebetulan baru saja selesai kerjakan tiga buah single untuk tiga orang artis pendatang baru (pop), 1 single untuk salah satu girlband (Hip-Hop RnB), dan album salah satu boyband (Hip-Hop, RnB, Pop).  Sekarang lagi istirahat dulu sehari atau dua hari, baru lanjut lagi dengan persiapan tiga single (religi) untuk tiga orang artis menyambut bulan suci ramadhan.

Last word, ada yang ingin disampaikan untuk para pejuang Hip-Hop Indonesia?
Last words buat pejuang Hip-Hop, terus berjuang dan berkarya. Belajarlah menerima apapun itu, masukan atau kritikan. Belajarlah menguasai ego sendiri, supaya bisa mengontrol, kapan ego itu dibutuhkan dan kapan ego itu tidak diperlukan. Dengan begitu, kita bisa menyeimbangkan kebutuhan dan selera masyarakat. Ketika masyarakat butuh ‘Hip-Hop banget’ kita bisa gunakan ego,  tapi ketika butuh ’selera pasar’, kita juga bisa karena sudah belajar mengontrol ego itu. Aku yakin banget kalau kita bisa mensejajarkan Hip-Hop.

Ayo, ramai-ramai untuk berkarya!

Terima kasih Bang Victor sudah menyempatkan waktu untuk ngobrol dengan Hiphopindo.NET. Semoga sukses semua proyek yang akan dikerjakan :)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.